MANUSIA INDONESIA DALAM KERAGAMAN DAN KESETARAAN SEBAGAI CITRA
ALLAH

OLEH
1.
EPIFANIUS BAYLON JEHUDIN
2.
MARIA ROSIANA DINA
3.
MARIA SUSANTI ENDANG
4.
ELFRIDA SUSIANA
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR STKIP ST. PAULUS RUTENG
2013/2014
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Manusia, kesetaraan dan keseragaman sebagai citra Allah”
tepat pada waktunya.
Tidak
lupa juga kami mengucapkan terimakasih kepada:
1.
Bapak Adrianus Jebarus selaku dosen pengampu matakuliah
spiritualitas yang telah memberikan kepercayaan
kepada kami untuk menyelesaikan makalah ini secara mandiri tetapi
tentunya tetap berpedomaan pada instruksi yang diberikan.
2.
Teman- teman yang telah membantu kami dalam proses
penyelesaian makalah ini baik dari segi waktu, tenaga dan biaya.
Kami
menyadari bahwa tulisan kami ini masih sangat jauh dari kesempurnaan oleh sebab
itu segala bentuk kritikan dan saran yang bersifat membangun dari pembaca yang
budiman kami harapkan agar dalam tulisan-tulisan kami selanjutnya akan lebih
baik lagi.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
belakang
Bab
ini tentang “manusia, keragaman dan kesetaraan” yakni dapat menyadarkan kepada
manusia bahwa keragaman merupakan keniscayaan hidup manusia, termasuk di
indonesia. Dalam paham multikulturalisme, kesederajadan, dan atau kesetaraan
sangat dihargai untuk semua budaya yang ada dalam masyarakat. Paham ini
sebetulnya merupakan bentuk akomodasi dari budaya arus utama (besar) terhadap
munculnya budaya-budaya kecil yang datang dari berbagai kelompok. Itulah
sebabnya, penting sekarang ini membahas keragaman dan kesetaraan dalam hidup
manusia yang adalah citra Allah.
Untuk konteks indonesia sebagai masyarakat
majemuk, sehubungan dengan pentingnya ketiga hal tersebut : manusia, keragaman,
dan kesetaraan, tatkala berbicara tentang keragaman, hal itu mesti dikaitkan
dengan kesetaraan. Mengapa? Karena keragaman tanpa kesetaraan akan memunculkan
diskriminasi : kelompok etnis yang satu bisa memperoleh lebih dibanding yang
lain; atau kelompok umur tertentu bisa mempunyai hak-hak khusus atas yang
lainnya. Keragaman yang didasarkan pada kesetaraan akan mampu mendorong
munculnya kreativitas, persaingan yang sehat dan terbuka, dan pada akhirnya
akan memacu kesaling-mengertian.
Perkembangan
pembangunan yang terjadi dalam dua dekade terakhir di indonesia menjadikan
pertemuan antar orang dari berbagai kelompok suku dan budaya sangat mudah
terjadi. Hal itu tentu saja akan menimbulkan banyak goncangan dan persoalan.
Karena itu sebelum menjadi sebuah konflik yang keras, indonesia sudah
selayaknya mempersiapkan masyarakatnya mengenai adanya keragaman.
Keragaman itu supaya menghasilkan manfaat besar harus diletakkan dalam bingkai
kebersamaan dan kesetaraan sebagai mahluk citra Allah.
B. Rumusan masalah
1.
Bagaimana manusia dan kedudukannya?
2.
Bagaimana hakekat keragaman dan kesetaraan manusia?
3.
Bagaimana hubungan keragaman dalam dinamika sosial dan budaya?
PEMBAHASAN
2.1 Manusia Dan
Kedudukannya
Manusia dan
masyarakat tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Manusia adalah
individu (makhluk tunggal) yang mampu menjalani hidupnya dalam sebuah konteks
yang disebut masyarakat.
Masyarakat
itu sendiri konsep yang didalamnya manusia menjadi unsur penting. Sebab
didlam masyarakat juga ada unsur lain seperti peraturan, norma dan sistem
(pendekatan secara sosiologis), kebudayaan sebagai cara hidup (pendekatan
etnografik), ruang sebagai tempat kehidupan, baik ruang dalam tataran
pengertian sebagai gagasan (pendekatan kualitatif), maupun sebagai unit
(spatial) yang nyata dengan batas-batasnya (pendekatan ekologis).
Manusia mulai
mengenal dirinya sebagai subyek ketika rene descartes mengumandangkan
pendekatan ego-cogito (cogito ergosum : saya berpikir maka saya ada).
Keberadaan manusia ditentukan oleh cara berpikirnya, atau manusia menjadi
manusia karena cara berpikirnya. Disamping kemampuan berpikir dan hidup saling
berdampingan, manusia hidup dalam dimensi rentang waktu dan sejarah, yang
membawanya kedalam alam kesadaran kelampauan, kekinian, maupun kemasadepanan.
Martin buber (1958) menolong manusia melihat bahwa ada pihak lain
yang justru lebih berkuasa yaitu tuhan. Bahwa pendekatan ego-cogito
tidaklah cukup. Sebagaimana dialami manusia jawa, dalam kesadaran penuhnya akan
eksistensi kelampauan, kekinian, maupun kemasadepanan yang direnungkan dalam
filsafat sangkanparaning dumadi, mereka senantiasa berupaya mencari jawab :
“darimana aku berasal, apa tugas dalam hidupku kini, dan kemana aku menuju
kelak di akhir hayat?”.
Manusia dalam
masyarakat bukanlah manusia yang pasif. Manusia itu bertindak, yang karenanya
tindakan sosial manusia menjadi penting. Berkaitan dengan tindakan sosial
inilah, keberadaan orang lain merupakan prasyarat mutlak, karena tidak ada
tindakan sosial yang terarah pada dirinya sendiri. Oleh karena itu manusia
merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakatnya, maka pertanyaan
mengenai “siapa aku” (who am i) sangat terkait erat juga dengan pertanyaan
“siapa kita” (who we are).
Menurut
hebermas, tindakan manusia tidak cukup hanya direduksi pada aspek kerja, baik
yang didasarkan pada rasionalitas (weber), atau pada lingkungan material yang
mengitarinya (marx) yang mencakup pada soal mencipta, berpikir maupun kerja
praktis lainnya, namun juga aspek komunikatif, yang menekankan relasi antar
orang yang dilaksanakan melalui bahasa.
Melalui pendekatan praktis komunikatif inilah ada dua
fungsi penting yang perlu diperankan seorang manusia dalam membentuk identitas
diri dan masyarakatnya. Dua fungsi tersebut yakni:
1. Fungsi responsivity
Yaitu fungsi
yang berkaitan erat dengan dimensi deskriptif manusia. Fungsi ini mencakup
kegiatan yang berada di wilayah kebudayaan dan pikiran yang bersifat
instrumental, berkaitan dengan relasi bersama orang lain. Misalnya, bagaimana
membangun sistem keamanan desa yang baiksecara partisipatif; atau bagaimana
mengembangkan budaya dan lingkungan yang membuat anak-anak muda merasa nyaman
bergaul satu sama lain; atau bagaimana menciptakan kesenian yang baik dan bisa
diterima oleh semua pihak.
2.
Fungsi responsibility
Berkaitan erat dengan fungsi etika,
moral, kewajiban dan hak dari setiap orang sebagai individu dan juga sebagai
bagian dari masyarakat. Tujuan dri responsibility adalah bagaimana tujuan hidup
dan hidup manusia bis dilaksanakan atau terlaksana tanpa gangguan orang lain
dalam masyarakat. Responsibility berusaha untuk membangun pemahaman yang menuju
pada terciptanya sebuah masyarakat yang berkeadilan. Oleh karena itu hak asasi
manusia (ham) menjadi bagian dari fungsi responsibility orang dalam masyarakat.
Pada fungsi
atau aspek responsivity tekanan diletakkan dalam konteks bagaimana orang dapat
melakukan tindakan yang berkaitan dengan aspek pemikiran dan kebudayaan.
Sementara aspek reponsibility menjaga supaya kegiatan
pemikiran dan kebudayaan tidak melanggar atau memunculkan ketidakadilan
terhadap pihak lain.
Melalui dua fungsi ini diharapkan
manusia dalam bermasyarakat dapat mengembangkan kegiatan yang mendukung
identitas individunya secara bebas, tetapi semua itu harus diletakkan dalam
konteks membangun kehidupan manusia yang lebih bermartabat, berguna dan
berkeadilan.
2.2 Hakekat
keseragaman dan kesetaraan manusia
Sudah
menjadi fakta social dan fakta sejarah kehidupan. sehingga pernah muncul
penindasan, perendahan, penghancuran dan penghapusan rasa atau etnis tertentu.
dalam sejarah kehidupan manusia pernah tumbuh ideology atau pemahaman bahwa
orang berkulit hitam ladalah berbeda, mereka lebih rendah dan dari yang
berkulit putih. contohnya di indonesia, etnis tionghoa memperoleh perlakuan
diskriminatif, baik secara social dan politik dari suku-suku lain di indonesia.
dan ternyata semua yang telah terjadi adalah kekeliruan, karena perlakuan
merendahkan martabat orang atau bangsa lain adalah tindakan tidak masuk akal
dan menyesatkan, sementara semua orang dan semua bangsa adalah sama dan
sederajat.
Martin
buber (1985) menjelaskan pada pendekatan “saya-engkau” bahwa manusia menjadi
memahami identitasnya ketika berhadapan dengan tuhan sebagai engkau, bahwa
manusia itu lemah dihadapan tuhan. dengan kata lain, keberadaan manusia satu
dengan yang lain menjadi setara, karena mereka adalah sama-sama ciptaan tuhan.
seringkali manusia tidak mampu mentransformasikan kontradiksi di dalam dirinya
bahwa dirinya adalah menjadi dirinya sendiri ketika berhadapan dengan orang
lain yang sama. kontradiksi dalam pikiran, perkataan, dan tindakan inilah yang
melahirkan konflik antar orang. seharusnya hubungan manusia dengan tuhan yang
bertujuan memulihkan jiwanya menjadi manusia utuh, menjadi sumber dan kerangka
membangun hubungan antar manusia. melalui relasi tersebut, manusia yang utuh
membagi makna absolute yang tidak akan dipahami melalui diri sendiri.
Perspektif
ham yang sejalan dengan perspektif agama, merupakan dasar secara hukum,
politik, social budaya, ekonomi, dan moral mengenai pernyataan bahwa pada
dasarnya adalah setara dan sederajat, walau ada perbedaan di antara mereka.
dokumen ham merupakan dasar yang diakui oleh hampir semua bangsa di dunia bahwa
–tidak ada pengecualian- semua manusia adalah sama dan sederajat. oleh karena
itu segala bentukbentuk perendahan, penindasan, dan tindakan lain yang
bertujuan mendeskriminasi perlu dihilangkan dan dilawan.
Dari
uraian diatas secara jelas menyebutkan bahwa manusia pada hakekatnya adalah
sama dan sederajat. perbedaan secara fisik tidak dapat menjadi dasar atau
legitimasi bagi munculnya tindakan yang bertujuan meniadakan keberadaan orang
lain. sebab, dengan beertindak meniadakan atau menghancurkaan orang lain, sebet
ulnya pada saat yang sama sedang terjadi pengingkaran terhadap dirinya sendiri
sebagai makhluk yang juga berharga. Justru
keragaman itu menjadi penanda bahwa seharusnya dalam kehidupan bersama satu
sama lain bisa saling melengkapi. seperti mozaik yang terdiri dari banyak macam
kaca dan bisa membentuk sebuah gambar yang bagus, demikian juga keragaman
seharusnya saling mengisi untuk membentuk sebuah kehidupan masyarakat yang
penuh keindahan dan harmoni.
2.3 Kemajemukan dalam dinamika sosial dan budaya
Keragaman
atau kemajemukan dalam masyarakat selalu
membawa perubahan dan masyarakat dibedakan ke dalam dua hal yang saling
berkaitan, yaitu:
Ø kemajemukan
sosial
Kemajemukan social, berkaitan dengan
relasi antar orang atau antar kelompok dalam masyarakat. Misalnya : perbedaan
jenis kelamin, asal usul keluarga atau kesukuan, perbedaan ideology atau
wawasan berpikir, perbedaan kepemilikan barang-barang atau pendapatan ekonomi.
Kemajemukan
social dapat dibedakan dalam 3 hal penting :
1.
Perbedaan gender atau seksualitas
Gender merupakan kerangka social yang diciptakan
manusia untuk membedakan laki-laki dan dan perempuan. Kerangka social ini tidak
dibangun secara ilmiah tetapi dibangun berdasarkan prasangka yang berkembang
dalam masyarakat, misalnya perempuan selalu diidentikkan dengan manusia yang
lemah dan cengeng, oleh karenanya wajar jika perempuan tidak diperbolehkan
menjadi pemimpin dalam masyarakat. Padahal, tidak selalu setiap perempuan adalah
seperti yang dibuat dalam kerangka gender tersebut. Sementara itu seksualitas
adalah pembeda karena jenis kelamin. Karena perbedaan seks bersifat kodrati,
maka yang bisa melahirkan dan menyusui hanyalah perempuan.
2.
Perbedaan kelas sosial
Dalam
masyarakat kuno nama seseorang kadang menunjukkan derajat kebangsawanan mereka.
Tetapi masyarakat modern sekarang ini tidak lagi mengaitkan nama dengan nama
desa asal, tapi tergantung dari keluarga masing-masing pemilik nama. Sekarang
banyak orang mengambil nama dari suku lain, bahkan bangsa lain yang tidak punya
ikatan sama sekali. Terlepas dari perubahan apapun yang terjadi, etnisitas,
kesukuan, dan asal-usul keluarga merupakan cirri pembeda seseorang, kendatipun
kemurniannya mulai menipis lantaran frekuensi perkawinan campur antar antarsuku
mulai meningkat.
3.
Perbedaan ekonommi
Perbedaan ini paling mudah dilihat,
yang dalam terminology marxisme tampak sebagai perbedaan kelas social (golongan
kaya-miskin), yang sering menimbulkan ketegangan dan konflik antar golongan.
Ø Kemajemukan budaya
Kemajemukan
budaya, berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan dalam menjalani hidup. Misalnya:
cara memandang dan menyelesaikan persoalan, cara beribadah, perbedaan dalam
menerapkan pola pengelolan keluarga; atau singkatnya dapat disebutkan bagaimana
seseorang memandang dunia, masyarakat dan kehidupan di dalamnya.
Merupakan
kenyataan sekaligus keniscayaan dalam kehidupan di masyarakat. Keragaman
merupakan salah satu realitas utama yang dialami masyarakat dan kebudayaan di
masa silam, kini dan di waktu-waktu mendatang sebagai fakta, keragaman
sering disikapi secara berbeda. Di satu sisi diterima sebagai fakta yang dapat
memperkaya kehidupan bersama, tetapi di sisi lain dianggap sebagai faktor
penyulit. Kemajemukan bisa mendatangkan manfaat yang besar, namun bisa juga
menjadi pemicu konflik yang dapat merugikan masyarakat sendiri jika tidak dikelola
dengan baik.
Dengan kebiasaan-kebiasaan dalam
menjalani hidup semisalnya cara menjalani hidup, cara memandang dan
menyelesaikan persoalan, cara beribadah sebagai ekspresi keyakinan kepada
tuhan, cara memandang dunia, masyarakat beserta kehidupan di dalamnya.
Contohnya : mengapa ada orang yang percaya dan memilih dukun untuk mengatasi
masalah kesehatan, bukannya mencari dokter. Demikian pula dalam hal mendidik
anak dalam keluarga. Ada yang menekankan bahwa berselisih pendapat dengan orang
lain itu dianggap tidak sopan dan mengggangu ketentraman. Karena itu, ada
keluarga yang mendidik untuk tidak membantah orang lain. Keluarga ini ketika
mendapat seorang aak kecil berdepat dengan orang tuanya merasa bahwa anak
tersebut tidak sopan, kurang pendidikan, bahkan nakal dan kuarang ajar. Hal ini
menimbulkan persoalan bagi keluarga yang tidak menekankan pendidikan bahwa anak
harus penurut.
Munculah
pandangan stereotip yaitu pandangan tentang sekelompok orang yang didefinisikan
karakternya kedalam grup. Pandangan tersebut bisa bersifat positif atau
negatif. Sebagai contoh, suatu bangsa dapat distereotipkan sebagai bangsa yang
ramah atau tidak ramah.
Biasanya
ciri-ciri dalam stereotip kebanyakan negatif, seperti cara bicara dan perilaku
orang batak kasar, cara bicara dan perilaku orang jawa lamban, orang cina pelit
dan orang madura suka berkelahi. Sejarah juga menjelaskan bahwa perbedaan
budaya dan stereotip telah menimbulkan banyak persoalan. Sindiran atau
pelecehan tehadap budaya pernah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia seperti
budaya atau orang tertentu sudah di cap buruk. Karena
itu dalam sejarah pernah terjadi pertobatan budaya. Penginjilan dan atau dakwah
dari agama tertentu pada masa lampau mencerminkan pandangan yang menganggap
bahwa suatu budaya tertentu lebih rendah dari budaya lain misalnya dalam
konteks kekristenan sejarah pengijilan selalu terkait dengan perendahan dan
pelecehan budaya bahwa semua orang harus bertobat dan masuk agama kristen yang
baru dan menyelamatkan. Istilah budaya yang tinggi merupakan milik keraton yang
dipertentagkan dengan kebudayaan rakyat, milik orang biasa dan miskin merupakan
bentuk upaya membedakan sekaligus sindiran dan pelecehan antara suatu budaya
dengan yang lain. Sekarang ini muncul budaya global yang datang dari barat dan
negara maju berhadapan dengan budaya lokal. Budaya global tersebut
memberikan dampak positif dan negatif bagi budaya lokal.
Seperti
globalisasi melawan lokalisasi atau kebudayan lokal, tetapi juga bisa pada
tingkat fisik seperti penghancuran gedung kembar di amerika serikat. Berbagai
keragama yang bersifat sosial maupun budaya membawa dampak pada masyarakat,
yaitu berupa perubahan sosial yang terjadi secara cepat karena adanya keragaman
dan dimanika sosial. Segala perubahan sosial bisa membawa dampak negatif
sekaligus positif. Keragaman sekarang muncul secara cepat akibatnya adalah
perubahan dan dinamika sosial terjadi cepat.
1. Kemajemukan sebagai
kekayaan bangsa indonesia
Kemajemukan bangsa terutama karena adanya kemajemukan etnik,
disebut juga suku bangsa atau suku. Beragamnya etnik di indonesia menyebabkan
banyak ragam budaya, tradisi, kepercayaan, dan pranata kebudayaan lainnya
karena setiap etnis pada dasarnya menghasilkan kebudayaan. Masyarakat indonesia
adalah masyarakat yang multikultur artinya memiliki banyak budaya.
Etnik atau suku merupakan identitas sosial budaya seseorang.
Artinya identifikasi seseorang dapat dikenali dari bahasa, tradisi, budaya,
kepercayaan, dan pranata yang dijalaninya yan gbersumber dari etnik dari mana
ia berasal.
Namun dalam perkembangan berikutnya, identitas sosial budaya
seseorang tidak semata-mata ditentukan dari etniknya. Identitas seseorang
mungkin ditentukan dari golongan ekonomi, status sosial, tingkat pendidikan,
profesi yang digelutinya, dan lain-lain. Identitas etnik lama-kelamaan bisa
hilang, misalnya karena adanya perkawinan campur dan mobilitas yang tinggi.
2.Problematika keberagaman solusinya
dalam kehidupan masyarakat dan negara
Dalam menganalisis
problematika dan solusi ada 2 hal yang menjadi 2 pertanyaan dasar yaitu :
1.
Apa contoh problematika dalam fakta keragaman kehidupan masyarakat
sekarang ini?
2.
Apa persoalaan yang muncul ketika keragaman mesti mendasari perkembangan
masa depan indonesia kearah perwujudannya menjadi sebuah bangsa yang kuat dan
kokoh?
Dalam bermasyarakat kasus yang paling banyak terjadi
adalah tentang kehidupan sex. Setiap orang pasti memiliki aneka ragam pemikiran
baik negative maupun positif tentang sex di kawula muda. Dari sini kita akan
mencoba menelaah lebih jauh tentang pandangan orang tentang sex tersebut.
Menurut
sigmund freud, dalam kajian psikologis maupun trajektoris(riwayat hidup)
seseorang, seks merupakan aspek dasar dimana seseorang bisa menemukan identitas
diri, sekaligus keinginan berkuasa. Banyak hal – hal negative yang terjadi
akibat dari seks ini antara lain pemerkosaan, aborsi yang bersifat negatif,
prostitusi, dan mungkin masih banyak lagi. Dan sebagian orang
mengkambinghitamkan media komunikasi yang cepat(televisi,internet,dll),
kurangnya kehidupan beragama yang menjalani kehidupan seks secara negative
tersebut. Kasus yang sangat ironis adalah tentang bagaimana tokoh masyarakat
dan tokoh agama justru terlibat dalam penyimpangan tersebut.
Kita
ambil saja kasus syekh puji yang menikahi anak dibawah umur karena dia
mempunyai harta berlebih dengan aneka macam dalih yang dia kemukakan. Dan dari
banyak kasus yang terjadi akan muncul norma yang berlaku dalam masyarakat
antara lain cemoohan, sindiran, sampai pengucilan. Dari kasus – kasus seksual
tersebut solusinya antara lain :
1.
Menyelenggarakan pendidikan seks yang benar supaya tidak terjadi
penyimpangan seks untuk kaum muda.
2.
Membuat peraturan dan pembatasan terhadap program – program yang
berdampak pada pemahaman mengenai kekerasan dan kebebasan seksual.
3.
Membongkar masyarakat mengenai seks dan seksualitas.
Dari
contoh problematika tersebut terlihat solusi tersebut dihasilkan dengan
keputusan bersama yang menguntungkan berbagai pihak. Dan solusi tersebut bisa
menjadi wadah aneka ragam pemikiran tentang seksualitas
Dalam
kehidupan bernegara, indonesia di hadapkan permasalahan keragaman yaitu tentang
perbedaan suku dan budaya. Hal tersebut sudah terjadi sejak indonesia berdiri
dan sudah menjadi cirri khas bangsa indonesia. Perbedaan tentang suku dan
budaya akan menjadi persoalan besar jika tidak ada nilai yang mengikatnya. Dan
di indonesia nilai yang ada adalah demokrasi.
Konsep
demokrasi yang masih bertahan di indonesia adalah tentang pancasila. Sejak
pemikiran tersebut di kemukakan oleh soekarno, pancasila merupakan salah satu
dasar yang menjadikan indonesia bersatu sejak hari kemerdekaan hingga saat ini.
Adanya
demokrasi bukan untuk menghilangkan konflik akan tetapi untuk mengelola
perbedaan yang ada supaya potensi konflik teredam dan intensitas konflik
terkendali sehingga bisa diperkecil.
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Sebagai individu yang menjalani
hidup di tengah masyarakat, fungsi dan peran manusia dalam membentuk
identitas diri dan masyarakatnya, yaitu responsivity dan responsibility.
Melalui dua fungsi tersebut pengembangan kreativitas social budaya dan
pembangunan keadilan social budaya, diharapkan manusia dalam bermasyarakat
dapat mengembangkan kegiatan yang mendukung identitas individunya secara bebas,
bermartabat, berguna, dan berkeadilan. Keragaman pernah merendahkan martabat
manusia, namun dari perspektif ham dan agama, jelas bahwa manusia pada
hakekatnya adalah sama dan sederajad.
3.2 SARAN
Meskipun
kita merupakan bangsa yang memiliki keragaman baik dari segi etnis atau suku,
agama, budaya yang berbeda kita harus tetap menyadari bahwa keberagaman itu
bukan sebagai alat untuk berusaha memisahkan atau memecah belahkan persatuan
tetapi kita harus memandang pada bingkai yang menyatukan yang sakral dan suci
yakni kita adalah sesama saudara dan citra Allah.
DAFTAR
PUSTAKA
Giri Wiloso,
Pamerdi, dkk. 2010. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Salatiga: Widya Sari
Setiadi, Elly M.
dkk. 2005. Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar. Jakarta: Prenada Media
Group
http://iqbalpersada.blogspot.com/2013/03/hakikat-keragaman-dan-kesetaraan.htmlhttp://erfanm.blogspot.com/2013/03/surah-al-ala-yang-maha-tinggi-dengan.htmlhttp://stkip.files.wordpress.com/2013/03/isbd.pdfjingga senja
22.54Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Face$bookBagikan ke Pinterest