Minggu, 20 Juli 2014



   MANUSIA INDONESIA DALAM KERAGAMAN DAN KESETARAAN SEBAGAI CITRA ALLAH
                                              

                                                                OLEH
1.      EPIFANIUS BAYLON JEHUDIN
2.      MARIA ROSIANA DINA
3.      MARIA SUSANTI ENDANG
4.      ELFRIDA SUSIANA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR STKIP ST. PAULUS                            RUTENG
2013/2014



KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur kami haturkan kepada  Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Manusia, kesetaraan dan keseragaman sebagai citra Allah” tepat pada waktunya.
            Tidak lupa juga kami mengucapkan terimakasih kepada:
1.      Bapak Adrianus Jebarus selaku dosen pengampu matakuliah spiritualitas yang telah memberikan kepercayaan  kepada kami untuk menyelesaikan makalah ini secara mandiri tetapi tentunya tetap berpedomaan pada instruksi yang diberikan.
2.      Teman- teman yang telah membantu kami dalam proses penyelesaian makalah ini baik dari segi waktu, tenaga dan biaya.
Kami menyadari bahwa tulisan kami ini masih sangat jauh dari kesempurnaan oleh sebab itu segala bentuk kritikan dan saran yang bersifat membangun dari pembaca yang budiman kami harapkan agar dalam tulisan-tulisan kami selanjutnya akan lebih baik lagi.


                                                                                                   
                                                                                            
                                                                                                                                             Penulis









BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
            Bab ini tentang “manusia, keragaman dan kesetaraan” yakni dapat menyadarkan kepada manusia bahwa keragaman merupakan keniscayaan hidup manusia, termasuk di indonesia. Dalam paham multikulturalisme, kesederajadan, dan atau kesetaraan sangat dihargai untuk semua budaya yang ada dalam masyarakat. Paham ini sebetulnya merupakan bentuk akomodasi dari budaya arus utama (besar) terhadap munculnya budaya-budaya kecil yang datang dari berbagai kelompok. Itulah sebabnya, penting sekarang ini membahas keragaman dan kesetaraan dalam hidup manusia yang adalah citra Allah.
             Untuk konteks indonesia sebagai masyarakat majemuk, sehubungan dengan pentingnya ketiga hal tersebut : manusia, keragaman, dan kesetaraan, tatkala berbicara tentang keragaman, hal itu mesti dikaitkan dengan kesetaraan. Mengapa? Karena keragaman tanpa kesetaraan akan memunculkan diskriminasi : kelompok etnis yang satu bisa memperoleh lebih dibanding yang lain; atau kelompok umur tertentu bisa mempunyai hak-hak khusus atas yang lainnya. Keragaman yang didasarkan pada kesetaraan akan mampu mendorong munculnya kreativitas, persaingan yang sehat dan terbuka, dan pada akhirnya akan memacu kesaling-mengertian.
            Perkembangan pembangunan yang terjadi dalam dua dekade terakhir di indonesia menjadikan pertemuan antar orang dari berbagai kelompok suku dan budaya sangat mudah terjadi. Hal itu tentu saja akan menimbulkan banyak goncangan dan persoalan. Karena itu sebelum menjadi sebuah konflik yang keras, indonesia sudah selayaknya mempersiapkan  masyarakatnya mengenai adanya keragaman. Keragaman itu supaya menghasilkan manfaat besar harus diletakkan dalam bingkai kebersamaan dan kesetaraan sebagai mahluk citra Allah.
B. Rumusan masalah
1.     Bagaimana manusia dan kedudukannya?
2.     Bagaimana  hakekat keragaman dan kesetaraan manusia?
3.     Bagaimana hubungan keragaman dalam dinamika sosial dan budaya?


PEMBAHASAN

2.1 Manusia Dan Kedudukannya
            Manusia dan masyarakat tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Manusia adalah individu (makhluk tunggal) yang mampu menjalani hidupnya dalam sebuah konteks yang disebut masyarakat.
            Masyarakat itu sendiri  konsep yang didalamnya manusia menjadi unsur penting. Sebab didlam masyarakat juga ada unsur lain seperti peraturan, norma dan sistem (pendekatan secara sosiologis), kebudayaan sebagai cara hidup (pendekatan etnografik), ruang sebagai tempat kehidupan, baik ruang dalam tataran pengertian sebagai gagasan (pendekatan kualitatif), maupun sebagai unit (spatial) yang nyata dengan batas-batasnya (pendekatan ekologis).
            Manusia mulai mengenal dirinya sebagai subyek ketika rene descartes mengumandangkan pendekatan ego-cogito (cogito ergosum : saya berpikir maka saya ada). Keberadaan manusia ditentukan oleh cara berpikirnya, atau manusia menjadi manusia karena cara berpikirnya. Disamping kemampuan berpikir dan hidup saling berdampingan, manusia hidup dalam dimensi rentang waktu dan sejarah, yang membawanya kedalam alam kesadaran kelampauan, kekinian, maupun kemasadepanan. Martin buber (1958) menolong  manusia melihat bahwa ada pihak lain yang  justru lebih berkuasa yaitu tuhan. Bahwa pendekatan  ego-cogito tidaklah cukup. Sebagaimana dialami manusia jawa, dalam kesadaran penuhnya akan eksistensi kelampauan, kekinian, maupun kemasadepanan yang direnungkan dalam filsafat sangkanparaning dumadi, mereka senantiasa berupaya mencari jawab : “darimana aku berasal, apa tugas dalam hidupku kini, dan kemana aku menuju kelak di akhir hayat?”.
            Manusia dalam masyarakat bukanlah manusia yang pasif. Manusia itu bertindak, yang karenanya tindakan sosial manusia menjadi penting. Berkaitan dengan tindakan sosial inilah, keberadaan orang lain merupakan prasyarat mutlak, karena tidak ada tindakan sosial yang terarah pada dirinya sendiri. Oleh karena itu manusia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakatnya, maka pertanyaan mengenai “siapa aku” (who am i) sangat terkait erat juga dengan pertanyaan “siapa kita” (who we are).
            Menurut hebermas, tindakan manusia tidak cukup hanya direduksi pada aspek kerja, baik yang didasarkan pada rasionalitas (weber), atau pada lingkungan material yang mengitarinya (marx) yang mencakup pada soal mencipta, berpikir maupun kerja praktis lainnya, namun juga aspek komunikatif, yang menekankan relasi antar orang yang dilaksanakan melalui bahasa.
Melalui pendekatan praktis komunikatif inilah ada dua fungsi penting yang perlu diperankan seorang manusia dalam membentuk identitas diri dan masyarakatnya. Dua fungsi tersebut yakni:
1.      Fungsi responsivity
            Yaitu fungsi yang berkaitan erat dengan dimensi deskriptif manusia. Fungsi ini mencakup kegiatan yang berada di wilayah kebudayaan dan pikiran yang bersifat instrumental, berkaitan dengan relasi bersama orang lain. Misalnya, bagaimana membangun sistem keamanan desa yang baiksecara partisipatif; atau bagaimana mengembangkan budaya dan lingkungan yang membuat anak-anak muda merasa nyaman bergaul satu sama lain; atau bagaimana menciptakan kesenian yang baik dan bisa diterima oleh semua pihak.
2.      Fungsi responsibility
Berkaitan erat dengan fungsi etika, moral, kewajiban dan hak dari setiap orang sebagai individu dan juga sebagai bagian dari masyarakat. Tujuan dri responsibility adalah bagaimana tujuan hidup dan hidup manusia bis dilaksanakan atau terlaksana tanpa gangguan orang lain dalam masyarakat. Responsibility berusaha untuk membangun pemahaman yang menuju pada terciptanya sebuah masyarakat yang berkeadilan. Oleh karena itu hak asasi manusia (ham) menjadi bagian dari fungsi responsibility orang dalam masyarakat.
Pada fungsi atau aspek responsivity tekanan diletakkan dalam konteks bagaimana orang dapat melakukan tindakan yang berkaitan dengan aspek pemikiran dan kebudayaan.
Sementara aspek reponsibility menjaga supaya kegiatan pemikiran dan kebudayaan tidak melanggar atau memunculkan ketidakadilan terhadap pihak lain.
Melalui dua fungsi ini diharapkan manusia dalam bermasyarakat dapat mengembangkan kegiatan yang mendukung identitas individunya secara bebas, tetapi semua itu harus diletakkan dalam konteks membangun kehidupan manusia yang lebih bermartabat, berguna dan berkeadilan.



2.2  Hakekat  keseragaman dan kesetaraan manusia
             Sudah  menjadi fakta social dan fakta sejarah kehidupan. sehingga pernah muncul penindasan, perendahan, penghancuran dan penghapusan rasa atau etnis tertentu. dalam sejarah kehidupan manusia pernah tumbuh ideology atau pemahaman bahwa orang berkulit hitam ladalah berbeda, mereka lebih rendah dan dari yang berkulit putih. contohnya di indonesia, etnis tionghoa memperoleh perlakuan diskriminatif, baik secara social dan politik dari suku-suku lain di indonesia. dan ternyata semua yang telah terjadi adalah kekeliruan, karena perlakuan merendahkan martabat orang atau bangsa lain adalah tindakan tidak masuk akal dan menyesatkan, sementara semua orang dan semua bangsa adalah sama dan sederajat.
            Martin buber (1985) menjelaskan pada pendekatan “saya-engkau” bahwa manusia menjadi memahami identitasnya ketika berhadapan dengan tuhan sebagai engkau, bahwa manusia itu lemah dihadapan tuhan. dengan kata lain, keberadaan manusia satu dengan yang lain menjadi setara, karena mereka adalah sama-sama ciptaan tuhan. seringkali manusia tidak mampu mentransformasikan kontradiksi di dalam dirinya bahwa dirinya adalah menjadi dirinya sendiri ketika berhadapan dengan orang lain yang sama. kontradiksi dalam pikiran, perkataan, dan tindakan inilah yang melahirkan konflik antar orang. seharusnya hubungan manusia dengan tuhan yang bertujuan memulihkan jiwanya menjadi manusia utuh, menjadi sumber dan kerangka membangun hubungan antar manusia. melalui relasi tersebut, manusia yang utuh membagi makna absolute yang tidak akan dipahami melalui diri sendiri.
            Perspektif ham yang sejalan dengan perspektif agama, merupakan dasar secara hukum, politik, social budaya, ekonomi, dan moral mengenai pernyataan bahwa pada dasarnya adalah setara dan sederajat, walau ada perbedaan di antara mereka. dokumen ham merupakan dasar yang diakui oleh hampir semua bangsa di dunia bahwa –tidak ada pengecualian- semua manusia adalah sama dan sederajat. oleh karena itu segala bentukbentuk perendahan, penindasan, dan tindakan lain yang bertujuan mendeskriminasi perlu dihilangkan dan dilawan.
            Dari uraian diatas secara jelas menyebutkan bahwa manusia pada hakekatnya adalah sama dan sederajat. perbedaan secara fisik tidak dapat menjadi dasar atau legitimasi bagi munculnya tindakan yang bertujuan meniadakan keberadaan orang lain. sebab, dengan beertindak meniadakan atau menghancurkaan orang lain, sebet ulnya pada saat yang sama sedang terjadi pengingkaran terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk yang juga berharga.         Justru keragaman itu menjadi penanda bahwa seharusnya dalam kehidupan bersama satu sama lain bisa saling melengkapi. seperti mozaik yang terdiri dari banyak macam kaca dan bisa membentuk sebuah gambar yang bagus, demikian juga keragaman seharusnya saling mengisi untuk membentuk sebuah kehidupan masyarakat yang penuh keindahan dan harmoni.

2.3 Kemajemukan  dalam dinamika sosial dan budaya
            Keragaman atau kemajemukan dalam masyarakat  selalu membawa perubahan dan masyarakat dibedakan ke dalam dua hal yang saling berkaitan, yaitu:
Ø   kemajemukan sosial
Kemajemukan social, berkaitan dengan relasi antar orang atau antar kelompok dalam masyarakat. Misalnya : perbedaan jenis kelamin, asal usul keluarga atau kesukuan, perbedaan ideology atau wawasan berpikir, perbedaan kepemilikan barang-barang atau pendapatan ekonomi.
      Kemajemukan social dapat dibedakan dalam 3 hal penting :
1.      Perbedaan gender atau seksualitas
Gender merupakan kerangka social yang diciptakan manusia untuk membedakan laki-laki dan dan perempuan. Kerangka social ini tidak dibangun secara ilmiah tetapi dibangun berdasarkan prasangka yang berkembang dalam masyarakat, misalnya perempuan selalu diidentikkan dengan manusia yang lemah dan cengeng, oleh karenanya wajar jika perempuan tidak diperbolehkan menjadi pemimpin dalam masyarakat. Padahal, tidak selalu setiap perempuan adalah seperti yang dibuat dalam kerangka gender tersebut. Sementara itu seksualitas adalah pembeda karena jenis kelamin. Karena perbedaan seks bersifat kodrati, maka yang bisa melahirkan dan menyusui hanyalah perempuan.
2.      Perbedaan kelas sosial
Dalam masyarakat kuno nama seseorang kadang menunjukkan derajat kebangsawanan mereka. Tetapi masyarakat modern sekarang ini tidak lagi mengaitkan nama dengan nama desa asal, tapi tergantung dari keluarga masing-masing pemilik nama. Sekarang banyak orang mengambil nama dari suku lain, bahkan bangsa lain yang tidak punya ikatan sama sekali. Terlepas dari perubahan apapun yang terjadi, etnisitas, kesukuan, dan asal-usul keluarga merupakan cirri pembeda seseorang, kendatipun kemurniannya mulai menipis lantaran frekuensi perkawinan campur antar antarsuku mulai meningkat.

3.      Perbedaan ekonommi
            Perbedaan ini paling mudah dilihat, yang dalam terminology marxisme tampak sebagai perbedaan kelas social (golongan kaya-miskin), yang sering menimbulkan ketegangan dan konflik antar golongan.
           
Ø  Kemajemukan budaya
            Kemajemukan budaya, berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan dalam menjalani hidup. Misalnya: cara memandang dan menyelesaikan persoalan, cara beribadah, perbedaan dalam menerapkan pola pengelolan keluarga; atau singkatnya dapat disebutkan bagaimana seseorang memandang dunia, masyarakat dan kehidupan di dalamnya.
Merupakan kenyataan sekaligus keniscayaan dalam kehidupan di masyarakat. Keragaman merupakan salah satu realitas utama yang dialami masyarakat dan kebudayaan di masa silam, kini dan di waktu-waktu mendatang sebagai fakta,  keragaman sering disikapi secara berbeda. Di satu sisi diterima sebagai fakta yang dapat memperkaya kehidupan bersama, tetapi di sisi lain dianggap sebagai faktor penyulit. Kemajemukan bisa mendatangkan manfaat yang besar, namun bisa juga menjadi pemicu konflik yang dapat merugikan masyarakat sendiri jika tidak dikelola dengan baik.
Dengan kebiasaan-kebiasaan dalam menjalani hidup semisalnya cara menjalani hidup, cara memandang dan menyelesaikan persoalan, cara beribadah sebagai ekspresi keyakinan kepada tuhan, cara memandang dunia, masyarakat beserta kehidupan di dalamnya. Contohnya : mengapa ada orang yang percaya dan memilih dukun untuk mengatasi masalah kesehatan, bukannya mencari dokter. Demikian pula dalam hal mendidik anak dalam keluarga. Ada yang menekankan bahwa berselisih pendapat dengan orang lain itu dianggap tidak sopan  dan mengggangu ketentraman. Karena itu, ada keluarga yang mendidik untuk tidak membantah orang lain. Keluarga ini ketika mendapat seorang aak kecil berdepat dengan orang tuanya merasa bahwa anak tersebut tidak sopan, kurang pendidikan, bahkan nakal dan kuarang ajar. Hal ini menimbulkan persoalan bagi keluarga yang tidak menekankan pendidikan bahwa anak harus penurut.
            Munculah pandangan stereotip yaitu pandangan tentang sekelompok orang yang didefinisikan karakternya kedalam grup. Pandangan tersebut bisa bersifat positif atau negatif. Sebagai contoh, suatu bangsa dapat distereotipkan sebagai bangsa yang ramah atau tidak ramah.
            Biasanya ciri-ciri dalam stereotip kebanyakan negatif, seperti cara bicara dan perilaku orang batak kasar, cara bicara dan perilaku orang jawa lamban, orang cina pelit dan orang madura suka berkelahi. Sejarah juga menjelaskan bahwa perbedaan budaya dan stereotip telah menimbulkan banyak persoalan. Sindiran atau pelecehan tehadap budaya pernah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia seperti budaya atau orang tertentu sudah di cap buruk.             Karena itu dalam sejarah pernah terjadi pertobatan budaya. Penginjilan dan atau dakwah dari agama tertentu pada masa lampau mencerminkan pandangan yang menganggap bahwa suatu budaya tertentu lebih rendah dari budaya lain misalnya dalam konteks kekristenan sejarah pengijilan selalu terkait dengan perendahan dan pelecehan budaya bahwa semua orang harus bertobat dan masuk agama kristen yang baru dan menyelamatkan. Istilah budaya yang tinggi merupakan milik keraton yang dipertentagkan dengan kebudayaan rakyat, milik orang biasa dan miskin merupakan bentuk upaya membedakan sekaligus sindiran dan pelecehan antara suatu budaya dengan yang lain. Sekarang ini muncul budaya global yang datang dari barat dan negara maju berhadapan dengan budaya lokal. Budaya global tersebut  memberikan dampak positif dan negatif bagi budaya lokal.

            Seperti globalisasi melawan lokalisasi atau kebudayan lokal, tetapi juga bisa pada tingkat fisik seperti penghancuran gedung kembar di amerika serikat. Berbagai keragama yang bersifat sosial maupun budaya membawa dampak pada masyarakat, yaitu berupa perubahan sosial yang terjadi secara cepat karena adanya keragaman dan dimanika sosial. Segala perubahan sosial bisa membawa dampak negatif sekaligus positif. Keragaman sekarang muncul secara cepat akibatnya adalah perubahan dan dinamika sosial terjadi cepat.

1.      Kemajemukan sebagai kekayaan bangsa indonesia
Kemajemukan bangsa terutama karena adanya kemajemukan etnik, disebut juga suku bangsa atau suku. Beragamnya etnik di indonesia menyebabkan banyak ragam budaya, tradisi, kepercayaan, dan pranata kebudayaan lainnya karena setiap etnis pada dasarnya menghasilkan kebudayaan. Masyarakat indonesia adalah masyarakat yang multikultur artinya memiliki banyak budaya.
Etnik atau suku merupakan identitas sosial budaya seseorang. Artinya identifikasi seseorang dapat dikenali dari bahasa, tradisi, budaya, kepercayaan, dan pranata yang dijalaninya yan gbersumber dari etnik dari mana ia berasal.
Namun dalam perkembangan berikutnya, identitas sosial budaya seseorang tidak semata-mata ditentukan dari etniknya. Identitas seseorang mungkin ditentukan dari golongan ekonomi, status sosial, tingkat pendidikan, profesi yang digelutinya, dan lain-lain. Identitas etnik lama-kelamaan bisa hilang, misalnya karena adanya perkawinan campur dan mobilitas yang tinggi.

2.Problematika keberagaman solusinya dalam kehidupan masyarakat dan negara
Dalam  menganalisis problematika dan solusi ada 2 hal yang menjadi 2 pertanyaan dasar yaitu :
1.    Apa contoh problematika dalam fakta keragaman kehidupan masyarakat sekarang ini?
2.    Apa persoalaan yang muncul ketika keragaman mesti mendasari perkembangan masa depan indonesia kearah perwujudannya menjadi sebuah bangsa yang kuat dan kokoh?
Dalam bermasyarakat kasus yang paling banyak terjadi adalah tentang kehidupan sex. Setiap orang pasti memiliki aneka ragam pemikiran baik negative maupun positif tentang sex di kawula muda. Dari sini kita akan mencoba menelaah lebih jauh tentang pandangan orang tentang sex tersebut.
            Menurut sigmund freud, dalam kajian psikologis maupun trajektoris(riwayat hidup) seseorang, seks merupakan aspek dasar dimana seseorang bisa menemukan identitas diri, sekaligus keinginan berkuasa. Banyak hal – hal negative yang terjadi akibat dari seks ini antara lain pemerkosaan, aborsi yang bersifat negatif, prostitusi, dan mungkin masih banyak lagi. Dan sebagian orang mengkambinghitamkan media komunikasi yang cepat(televisi,internet,dll), kurangnya kehidupan beragama yang menjalani kehidupan seks secara negative tersebut. Kasus yang sangat ironis adalah tentang bagaimana tokoh masyarakat dan tokoh agama justru terlibat dalam penyimpangan tersebut.
            Kita ambil saja kasus syekh puji yang menikahi anak dibawah umur karena dia mempunyai harta berlebih dengan aneka macam dalih yang dia kemukakan. Dan dari banyak kasus yang terjadi akan muncul norma yang berlaku dalam masyarakat antara lain cemoohan, sindiran, sampai pengucilan. Dari kasus – kasus seksual tersebut solusinya antara lain :
1.      Menyelenggarakan pendidikan seks yang benar supaya tidak terjadi penyimpangan seks untuk kaum muda.
2.      Membuat peraturan dan pembatasan terhadap program – program yang berdampak pada pemahaman mengenai kekerasan dan kebebasan seksual.
3.      Membongkar masyarakat mengenai seks dan seksualitas.
           
            Dari contoh problematika tersebut terlihat solusi tersebut dihasilkan dengan keputusan bersama yang menguntungkan berbagai pihak. Dan solusi tersebut bisa menjadi wadah aneka ragam pemikiran tentang seksualitas
            Dalam kehidupan bernegara, indonesia di hadapkan permasalahan keragaman yaitu tentang perbedaan suku dan budaya. Hal tersebut sudah terjadi sejak indonesia berdiri dan sudah menjadi cirri khas bangsa indonesia. Perbedaan tentang suku dan budaya akan menjadi persoalan besar jika tidak ada nilai yang mengikatnya. Dan di indonesia nilai yang ada adalah demokrasi.
            Konsep demokrasi yang masih bertahan di indonesia adalah tentang pancasila. Sejak pemikiran tersebut di kemukakan oleh soekarno, pancasila merupakan salah satu dasar yang menjadikan indonesia bersatu sejak hari kemerdekaan hingga saat ini.
            Adanya demokrasi bukan untuk menghilangkan konflik akan tetapi untuk mengelola perbedaan yang ada supaya potensi konflik teredam dan intensitas konflik terkendali sehingga bisa diperkecil.








BAB III
PENUTUP

3.1  KESIMPULAN
            Sebagai individu yang menjalani hidup di tengah masyarakat, fungsi dan peran manusia dalam membentuk identitas diri dan masyarakatnya, yaitu responsivity dan responsibility. Melalui dua fungsi tersebut pengembangan kreativitas social budaya dan pembangunan keadilan social budaya, diharapkan manusia dalam bermasyarakat dapat mengembangkan kegiatan yang mendukung identitas individunya secara bebas, bermartabat, berguna, dan berkeadilan. Keragaman pernah merendahkan martabat manusia, namun dari perspektif ham dan agama, jelas bahwa manusia pada hakekatnya adalah sama dan sederajad.

             3.2  SARAN
                        Meskipun kita merupakan bangsa yang memiliki keragaman baik dari segi etnis atau suku, agama, budaya yang berbeda kita harus tetap menyadari bahwa keberagaman itu bukan sebagai alat untuk berusaha memisahkan atau memecah belahkan persatuan tetapi kita harus memandang pada bingkai yang menyatukan yang sakral dan suci yakni kita adalah sesama saudara dan citra Allah.












                                                DAFTAR PUSTAKA

Giri Wiloso, Pamerdi, dkk. 2010. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Salatiga:   Widya Sari
Setiadi, Elly M. dkk. 2005. Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar. Jakarta: Prenada Media Group
http://iqbalpersada.blogspot.com/2013/03/hakikat-keragaman-dan-kesetaraan.htmlhttp://erfanm.blogspot.com/2013/03/surah-al-ala-yang-maha-tinggi-dengan.htmlhttp://stkip.files.wordpress.com/2013/03/isbd.pdfjingga senja 22.54Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Face$bookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar